Lucu memang melihat dunia kampus hari ini, mulai dari mahasiswa yang semakin larut pada zaman dan konsumsi pasar kapital hingga dengan pimpinan kampus yang entah tak jelas apa mau dan tujuan mereka. Sedikit aneh melihat dinamika yang tak berjalan semestinya, dinamika yang dibentuk membuat mahasiswa geram namun bungkam. Sedikit celoteh dari kami para aktivis kampus yang benar-benar ingin membesarkan nama kampus yang selama ini menaungi kami.
Kadang kala diterik siang kami bersua sembari menyeruput kopi hangat yang dibeli di warung belakang kampus, tatkala celoteh kecil keluar tentang apa yang kami lakukan disini. Bersama teman sejawat bercerita tentang dinamika yang semakin hari semakin pelik, “apa yang kita lakukakn disini, bekerja tanpa digaji namun dituntut menopang visi misi yang entah milik siapa” celotehku dengan teman seperjuangan.
Kami merupakan para ketua lembaga organisasi di kampus oranye pada Universitas yang acap disebut kampus hijau. Tak banyak yang kami harapkan dari kampus tercinta ini, hanya ijazah dan sedikit pengalaman yang kami cari. Berkuliah di kelas mencari sedikit cerita dari pengajar kami, dan berorganisasi mencari sedikit pengalaman dan relasi ditambah pencapaian kampus yang harusnya semakin tinggi.
Namun apa daya, dengan hanya sedikit pengharapan itu kami dianggap sebelah mata oleh yang katanya para ayahanda di kampus ini. Dari apa yang kami lakukan selama ini kami tak mendapat reward yang secuilpun, ucapan terimakasihpun jarang bahkan tak pernah terlontar dari para ayahanda sang penguasa kampus.
Terbesit di fikirian, apa yang kami lakukan disini???? Hanya dijadikan sapi perah mereka kah?, Kami bukannya bungkam namun masih berfikir agar tak menyakiti perasaan para ayahanda kami sedikitpun. Namun semakin lama berlarut rasanya tak perlu mereka dikasihani sejauh itu, toh merekapun tak pernah memikirkan apa yang kami lakukan untuk rumah kecil yang mereka banggakan.
Tak paham lagi apa yang mereka mau dari kami, selalu memberi tanggung jawab namun tak pernah memberikan hak kami sekdikitpun. Apakah ayahnda menyuruh kami mandiri? Tak perlu seperti itu ceritanya, kami pasti berjalan tanpa kalian, namun berikanlah setidaknya hak kami untuk mengurus segala keperluan kami di rumah kecil ini, itupun kami lakukan untuk memajukan rumah besar kita, kampus FISIP tercinta.
Inilah celoteh kecil dari kami para ketua lembaga yang tak jelas memajukan apa dan siapa, guyonan terlintas tatkala dinamika yang tak tentu arah. Kami bukan marah, kami hanya sedikit kecewa. Jangan salahkan kami ketika semua tak berjalan semestinya, karena kami mampu berjalan dengan ataupun tanpa ayahanda. Terbesit kutipan yang sering dilontarkan ketika mendengar para orator berbicara, “apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, maka hanya ada satu kata, LAWAN“.
Penulis : Hendra Sahputra (Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Republica Fisip Unila)
Kadang kala diterik siang kami bersua sembari menyeruput kopi hangat yang dibeli di warung belakang kampus, tatkala celoteh kecil keluar tentang apa yang kami lakukan disini. Bersama teman sejawat bercerita tentang dinamika yang semakin hari semakin pelik, “apa yang kita lakukakn disini, bekerja tanpa digaji namun dituntut menopang visi misi yang entah milik siapa” celotehku dengan teman seperjuangan.
Kami merupakan para ketua lembaga organisasi di kampus oranye pada Universitas yang acap disebut kampus hijau. Tak banyak yang kami harapkan dari kampus tercinta ini, hanya ijazah dan sedikit pengalaman yang kami cari. Berkuliah di kelas mencari sedikit cerita dari pengajar kami, dan berorganisasi mencari sedikit pengalaman dan relasi ditambah pencapaian kampus yang harusnya semakin tinggi.
Namun apa daya, dengan hanya sedikit pengharapan itu kami dianggap sebelah mata oleh yang katanya para ayahanda di kampus ini. Dari apa yang kami lakukan selama ini kami tak mendapat reward yang secuilpun, ucapan terimakasihpun jarang bahkan tak pernah terlontar dari para ayahanda sang penguasa kampus.
Terbesit di fikirian, apa yang kami lakukan disini???? Hanya dijadikan sapi perah mereka kah?, Kami bukannya bungkam namun masih berfikir agar tak menyakiti perasaan para ayahanda kami sedikitpun. Namun semakin lama berlarut rasanya tak perlu mereka dikasihani sejauh itu, toh merekapun tak pernah memikirkan apa yang kami lakukan untuk rumah kecil yang mereka banggakan.
Tak paham lagi apa yang mereka mau dari kami, selalu memberi tanggung jawab namun tak pernah memberikan hak kami sekdikitpun. Apakah ayahnda menyuruh kami mandiri? Tak perlu seperti itu ceritanya, kami pasti berjalan tanpa kalian, namun berikanlah setidaknya hak kami untuk mengurus segala keperluan kami di rumah kecil ini, itupun kami lakukan untuk memajukan rumah besar kita, kampus FISIP tercinta.
Inilah celoteh kecil dari kami para ketua lembaga yang tak jelas memajukan apa dan siapa, guyonan terlintas tatkala dinamika yang tak tentu arah. Kami bukan marah, kami hanya sedikit kecewa. Jangan salahkan kami ketika semua tak berjalan semestinya, karena kami mampu berjalan dengan ataupun tanpa ayahanda. Terbesit kutipan yang sering dilontarkan ketika mendengar para orator berbicara, “apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, maka hanya ada satu kata, LAWAN“.
Penulis : Hendra Sahputra (Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Republica Fisip Unila)
Komentar
Posting Komentar